Sebuah Kisah Pembuka, Gus Mi dan Cak To
Pagi itu, merupakan pagi yang cerah. Seperti biasa, gus mi lari pagi berkeliling desa. Gus mi merutinkan lari pagi untuk menyehatkan badan, sekaligus menyapa tetangga sekitar kediaman gus mi.
Setelah sekian meter berlari, gus mi melihat cak to leyeh-leyeh di depan rumahnya. Namun ada yang berbeda dengan cak to, sudah sekian pagi gus mi melihat cak to leyeh-leyeh sambil khusyuk mendengarkan sesuatu.
Gus mi yang penasaran diam-diam ikut mendengarkan disamping cak to. Ndelalah cak to menyadari kehadiran gus mi
"lho gus, ada apa?? Kok tiba-tiba ada disini??"
"Anu cak.... Inilho, saya kok akhir-akhir ini melihat kamu setiap pagi khusyuk mendengarkan sesuatu disini. Sebenarnya apa to yang kamu dengarkan??"
"Oooooooh.... Ini to gus, saya sedang ndengerin pengajian gus baha"
"Walaaaah, gus baha to, yo mantap itu cak, pantes saya lihat sesekali kamu manggut-manggut sendiri"
"Iya lah gus, mau gak manggut gimana?? Lhawong penjelasan beliau itu ringkas, sederhana, tapi mengena je, jadinya saya refleks manggut-manggut"
"Lha terus, selain didengar, apa yang kamu lakukan dengan pengajian gus baha cak??"
Cak to sejenak berdiam, alih-alih berfikir sambil mengernyitkan dahi, padahal memang tak tahu harus menjawab apa
"Apa lagi yang bisa saya lakukan di pagi hari selain leyeh-leyeh dan mendengarkan pengajian gus?? Mosok saya harus mendengarkan pengajian sambil lari-lari?? Nanti kamu ada pesaingnya dong gus??
Gus mi tertawa mendengar jawaban cak to "Hahahahaha... Ada-ada aja kamu ini cak, maksud saya gini lho, apa kamu tidak ingin menuliskan pengetahuan baru yang kamu dapat setiap pagi??"
Cak to semakin heran dengan usulan dari gus mi "Nulis?? Buat apa gus ditulis segala?? Gunanya apa buat saya yang kerjanya cuma ngopi dan udud-udud gini??"
"Banyak dong cak gunanya, setidaknya kamu bisa tau seperti apa kemampuanmu memahami dan menuliskan kembali apa yang kamu ketahui, setidaknya berguna untuk mengisi mayoritas waktumu yang nganggur cak"
Cak to seketika malu mendengar jawaban dari gus mi "Hehehehe, bisa aja kamu ini gus"
"Nggak cuma itu cak, kamu tau sahabat Abu Huroiroh??"
"Imam abu huroiroh sang sahabat perawi hadis terbanyak itu gus??"
Gus mi mengangguk tanda menyetujui
"Ada apa dengan sahabat Abu Huroiroh gus??"
"Memang benar Abu Huroiroh itu perawi hadis terbanyak, namun, kamu tau nggak?? Beliau itu punya saingan lho"
"Oh iya gus?? Siapa orangnya yang sampai-sampai bisa menyaingi sahabat Abu Huroiroh??"
"Namanya Abdullah bin 'Amr, kamu mau tau apa keistimewaan beliau??"
Cak to pun semakin penasaran dan antusias menanti jawaban gus mi "Memangnya apa sih gus keistimewaan beliau"
"Keistimewaannya sederhana cak, sahabat Abdullah bin 'Amr bisa menjadi saingan sahabat Abu Huroiroh karena sahabat Abdullah bin 'Amr bisa menulis, sedangkan Abu Huroiroh tidak"
Sedikit tersindir, namun berusaha tetap terlihat antusias, cak to menimpali "Waaaah, sebegitu pentingnya ya menulis itu gus??"
"Memang begitu cak, seingat-ingatnya manusia pasti ada lupanya" pungkas gus mi
"Siap gus, mulai besok saya akan mulai menuliskan apa yang saya dapat dari pengajian gus baha" mantap cak to menjawab
"Lhaaa, gitu dong cak, mantap" sambil gus mi tersenyum bangga
Beberapa saat kemudian, cak to nyeletuk bertanya "Gus, lha kamu sudah pernah nulis apa saja??"
.
Seketika suasana hening.....
Disarikan dari Pengajian Gus Baha, kitab syariatullah al-kholidah H. 128-129
Setelah sekian meter berlari, gus mi melihat cak to leyeh-leyeh di depan rumahnya. Namun ada yang berbeda dengan cak to, sudah sekian pagi gus mi melihat cak to leyeh-leyeh sambil khusyuk mendengarkan sesuatu.
Gus mi yang penasaran diam-diam ikut mendengarkan disamping cak to. Ndelalah cak to menyadari kehadiran gus mi
"lho gus, ada apa?? Kok tiba-tiba ada disini??"
"Anu cak.... Inilho, saya kok akhir-akhir ini melihat kamu setiap pagi khusyuk mendengarkan sesuatu disini. Sebenarnya apa to yang kamu dengarkan??"
"Oooooooh.... Ini to gus, saya sedang ndengerin pengajian gus baha"
"Walaaaah, gus baha to, yo mantap itu cak, pantes saya lihat sesekali kamu manggut-manggut sendiri"
"Iya lah gus, mau gak manggut gimana?? Lhawong penjelasan beliau itu ringkas, sederhana, tapi mengena je, jadinya saya refleks manggut-manggut"
"Lha terus, selain didengar, apa yang kamu lakukan dengan pengajian gus baha cak??"
Cak to sejenak berdiam, alih-alih berfikir sambil mengernyitkan dahi, padahal memang tak tahu harus menjawab apa
"Apa lagi yang bisa saya lakukan di pagi hari selain leyeh-leyeh dan mendengarkan pengajian gus?? Mosok saya harus mendengarkan pengajian sambil lari-lari?? Nanti kamu ada pesaingnya dong gus??
Gus mi tertawa mendengar jawaban cak to "Hahahahaha... Ada-ada aja kamu ini cak, maksud saya gini lho, apa kamu tidak ingin menuliskan pengetahuan baru yang kamu dapat setiap pagi??"
Cak to semakin heran dengan usulan dari gus mi "Nulis?? Buat apa gus ditulis segala?? Gunanya apa buat saya yang kerjanya cuma ngopi dan udud-udud gini??"
"Banyak dong cak gunanya, setidaknya kamu bisa tau seperti apa kemampuanmu memahami dan menuliskan kembali apa yang kamu ketahui, setidaknya berguna untuk mengisi mayoritas waktumu yang nganggur cak"
Cak to seketika malu mendengar jawaban dari gus mi "Hehehehe, bisa aja kamu ini gus"
"Nggak cuma itu cak, kamu tau sahabat Abu Huroiroh??"
"Imam abu huroiroh sang sahabat perawi hadis terbanyak itu gus??"
Gus mi mengangguk tanda menyetujui
"Ada apa dengan sahabat Abu Huroiroh gus??"
"Memang benar Abu Huroiroh itu perawi hadis terbanyak, namun, kamu tau nggak?? Beliau itu punya saingan lho"
"Oh iya gus?? Siapa orangnya yang sampai-sampai bisa menyaingi sahabat Abu Huroiroh??"
"Namanya Abdullah bin 'Amr, kamu mau tau apa keistimewaan beliau??"
Cak to pun semakin penasaran dan antusias menanti jawaban gus mi "Memangnya apa sih gus keistimewaan beliau"
"Keistimewaannya sederhana cak, sahabat Abdullah bin 'Amr bisa menjadi saingan sahabat Abu Huroiroh karena sahabat Abdullah bin 'Amr bisa menulis, sedangkan Abu Huroiroh tidak"
Sedikit tersindir, namun berusaha tetap terlihat antusias, cak to menimpali "Waaaah, sebegitu pentingnya ya menulis itu gus??"
"Memang begitu cak, seingat-ingatnya manusia pasti ada lupanya" pungkas gus mi
"Siap gus, mulai besok saya akan mulai menuliskan apa yang saya dapat dari pengajian gus baha" mantap cak to menjawab
"Lhaaa, gitu dong cak, mantap" sambil gus mi tersenyum bangga
Beberapa saat kemudian, cak to nyeletuk bertanya "Gus, lha kamu sudah pernah nulis apa saja??"
.
Seketika suasana hening.....
Disarikan dari Pengajian Gus Baha, kitab syariatullah al-kholidah H. 128-129
Komentar
Posting Komentar