Uraian Mahallul Qiyam Shimthudduror, Memperingati Haul Seiwun 2019 dari Narukan





[23 Rabiul Akhir 1441 H] Seperti biasa, petang itu diisi dengan rutinitas pesantren pada umumnya, setelah jamaah maghrib dilanjut dengan kirim doa kepada leluhur, juga membaca Maulid Al-Barzanji

Namun petang itu berbeda, karena petang itu Gus Baha ngersaaken ngaos, yaitu kitab Syariatullah Al-Kholidah karangan Sayyid Muhammad, dan juga Maulid Shimthudduror. Ditandai aba-aba pengumuman dari kang-kang yang lebih senior, setelah jamaah isya tiba-tiba diumumkan "Pengumuman, setelah ini ngaos syariatullah dan shimthudduror" sontak membuat santri-santri lagek kalangkabut mengambil kitab dan bersiap untuk ngaos dadakan

Tidak heran, memang ciri khas beliau, Gus Baha, adalah menghormati dan merayakan sesuatu hari dengan ngaos, ngaos karya yang dihormati pada hari itu, atau orang lain. Hari itu, karena bertepatan dengan haul Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi, beliau ngersaaken ngaos kitab shimthudduror, tabarrukan kepada pengarang maulid.

Shuffah (baca: halaman) musala LP3IA menjadi tempat pengaosan haul Habib Ali bin Muhammad bin Husain Al-Habsyi. Dibuka dan dipenuhi dengan uraian beliau tentang bait-bait kasidah mahallul qiyam maulid shimthudduror, ngaos pun dimulai

أَشْرَقَ الْكَوْنُ ابْتِهَاجًا # بِوُجُودِ الْمُصْطَفَى احْمَدْ
وَلِأَهْلِ الْكَوْنِ أُنْسٌ # وَسُرُوْرٌ قَدْ تَجَدَّدْ

Beliau juga menyebutkan, pahwa para penyandang kebenaran, para ahli quran, seharusnya menyuarakan kebenaran dengan lantang, dan juga harus menggunakan suara yang indah

فَاطْرَبُواْ يَاأهْلَ الْمَثَانِي # فَهَزَارُ الْيُمْنِ غَرَّدْ

Kita juga harus berusaha bahagia, merasa bahagia, dan menyuarakan kebahagiaan dengan hal-hal yang baik, salah satunya adalah dengan bahagia karena Nabi Muhammad, karena menjadi umatnya. Hal ini dimaksudkan untuk membuktikan bahwa kita bisa bahagia dengan hal yang baik, lebih-lebih bisa mencukupkan kita untuk mencari kebahagiaan dari suatu maksiat, karena pada zaman akhir seperti ini, banyak orang melakukan perbuatan maksiat itu dengan tujuan hanya mencari bahagia

Meskipun kita tahu bahwa nasib kita di akhirat kelak itu tidak pasti, namun kita harus yakin bahwa syafaat Nabi Muhammad kelak di akhirat itu pasti

وَلَنَا الْبُشْرَى بِسَعْدٍ # مُسْتَمِرٍّ لَيْسَ يَنْفَدْ

Dengan barakah Nabi Muhammad, Allah punya sekian pujian yang sangat banyak, sehingga tak terhitung banyaknya

فَلِرَبِّي كُلُّ حَمْدٍ # جَلَّ أَنْ يَحْصُرَهُ الْعَدْ

Kita tentu tidak akan bisa meniru secara persis bagaimana tingkah laku Nabi Muhammad, karena perbedaan kita dengan beliau itu sangat jauh, kita manusia, beliau manusia yang tidak seperti manusia, yaqut ditengah batu biasa. Maka dari itu kita meminta untuk meniru beliau tidak secara persis, kita memohon pada Allah agar kita diberi petunjuk untuk menyamai Nabi Muhammad secara metode, secara pola

Sekali lagi, agar kita bisa bahagia, karena kita harus bisa selalu merasa bahagia dan semakin meminimalkan kesusahan, karena kita itu punya guru-guru yang suka guyon dan selalu bahagia, sebut saja KH. Maimoen Zubair dan KH. Nur Salim yang merupakan guru-guru Gus Baha, dan sudah barang tentu gus baha yang selalu bahagia dan membahagiakan khalayak, terkhusus yang mengikuti ngaji beliau

وَاهْدِنَا نَهْجَ سَبِيْلِهْ # كَيْ بِهِ نَسْعَدْ وَنُرْشَدْ

Gus baha juga menambahi, bahwa Maulid Ad-Diba'i adalah kitab maulid tertua yang sampai kepada kita, juga menjadi master habib Ali Al-Habsyi dalam mengarang Maulid Shimthudduror. Sedangkan Maulid Al-Barzanji sebagai kitab maulid yang sarat dengan sejarah nabi, juga dikreasikan memuat pujian pada sahabat nabi, berbeda dengan maulid lain yang pujiannya cenderung terfokus pada nabi dan Ahl Al-Bayt (keluarga nabi)
.
.
Setelah rampung membedah seluruh bait mahallul qiyam maulid shimthudduror, maka bait tersebut dilantunkan bersama-sama
Meskipun hormat kami di tempat yang terpaut sekian kilometer dari solo, apalagi seiwun, semoga tetap bisa menjadi bukti bahwa kami masih mencintai ulama, terlebih mencintai Nabi Muhammad

 اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ اَشْرَفَ الصَّلَاةِ وَالتَّسْلِيْم
عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدِ نِ الرَّؤُوْفُ الرَّحِيْمِ
.


Komentar

Postingan Populer